SATRIA-1 dan Starlink: Membuka Jalan Transformasi Digital Pendidikan di Kepulauan Maluku

SATRIA-1 dan Starlink untuk konektivitas pendidikan di Maluku

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita membicarakan transformasi digital di Indonesia: tidak semua sekolah memiliki titik awal yang sama.

Bagi sekolah di kota besar, internet cepat sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Guru dapat mengakses berbagai sumber pembelajaran, siswa mengikuti kelas daring, administrasi sekolah dilakukan secara online, bahkan ujian berbasis komputer dapat dilaksanakan dengan relatif mudah.

Namun, situasinya berbeda di sejumlah wilayah kepulauan Maluku.

Jarak antarpulau, kondisi geografis, keterbatasan listrik, sulitnya distribusi perangkat, serta belum meratanya jaringan telekomunikasi membuat akses internet masih menjadi persoalan nyata. Karena itu, ketika teknologi satelit seperti SATRIA-1 dan Starlink mulai masuk ke sekolah-sekolah di wilayah 3T, persoalannya bukan sekadar mendapatkan koneksi internet.

Ini menyangkut kesempatan anak-anak Maluku untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih setara.

Maluku dan Tantangan Kesenjangan Digital

Data penetrasi internet menunjukkan bahwa Maluku masih menghadapi pekerjaan besar dalam pemerataan akses digital.

Berdasarkan data APJII 2025 yang dirangkum Katadata Databoks, tingkat penetrasi internet di Provinsi Maluku tercatat 65,48 persen. Angka tersebut menempatkan Maluku pada posisi ke-34 dari 38 provinsi di Indonesia.

Grafik penetrasi internet Maluku dan 38 provinsi Indonesia 2025
Gambar 1. Tingkat penetrasi internet di 38 provinsi Indonesia pada 2025. Sumber: APJII/Katadata Databoks.

Sementara itu, dalam survei APJII 2023, penetrasi internet Maluku tercatat 74,99 persen. Perbedaan angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena berasal dari survei pada periode yang berbeda dan tidak otomatis menunjukkan bahwa kualitas internet di Maluku turun sebesar selisih angka tersebut.

Yang lebih penting adalah pesan di balik data tersebut: akses internet di Maluku masih belum merata.

Persoalannya semakin kompleks karena Maluku merupakan provinsi kepulauan. Membangun jaringan di wilayah seperti ini tidak sama dengan membangun jaringan di kawasan perkotaan yang memiliki kepadatan penduduk tinggi dan infrastruktur jalan yang relatif mudah dijangkau.

Di pulau kecil, sebuah proyek pembangunan jaringan dapat membutuhkan biaya logistik yang jauh lebih besar.

Material harus dikirim melalui laut. Peralatan membutuhkan sumber listrik. Menara membutuhkan lokasi dan konstruksi. Kabel bawah laut juga memiliki risiko gangguan yang tidak bisa sepenuhnya dihindari.

Di sinilah teknologi satelit mulai memainkan peran penting.

Mengapa Infrastruktur Internet Konvensional Tidak Selalu Cukup?

Serat optik tetap merupakan salah satu teknologi penting dalam pembangunan jaringan internet nasional. Begitu pula BTS yang menjadi tulang punggung jaringan seluler.

Namun, keduanya memiliki keterbatasan ketika diterapkan di daerah dengan kondisi geografis ekstrem.

1. Kabel Serat Optik

Kabel bawah laut mampu membawa kapasitas data yang sangat besar. Tetapi pembangunan dan pemeliharaannya membutuhkan investasi serta proses teknis yang tidak sederhana.

Gangguan pada kabel laut juga dapat berdampak terhadap konektivitas wilayah yang bergantung pada jalur tersebut.

2. BTS

BTS sangat efektif untuk menyediakan jaringan seluler di wilayah yang memiliki kepadatan pengguna cukup tinggi.

Masalahnya, membangun BTS di pulau-pulau kecil dengan jumlah penduduk terbatas belum tentu menarik secara bisnis bagi operator.

Biaya pembangunan, transportasi, energi dan pemeliharaan harus diperhitungkan dengan jumlah pengguna yang dilayani.

3. Palapa Ring

Palapa Ring menjadi salah satu fondasi penting jaringan telekomunikasi nasional. Namun, pembangunan infrastruktur saja belum otomatis membuat seluruh wilayah memiliki layanan internet yang aktif.

BAKTI menyebut jaringan Palapa Ring telah mencakup 131 lokasi, tetapi hanya sekitar 57 lokasi yang memiliki pemain layanan aktif. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dan keberlanjutan layanan komersial merupakan dua persoalan yang berbeda.

Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya:

“Apakah infrastrukturnya sudah dibangun?”

Tetapi juga:

“Apakah masyarakat di lokasi tersebut benar-benar mendapatkan layanan yang bisa digunakan secara berkelanjutan?”

SATRIA-1: Negara Hadir di Wilayah Blank Spot

Dalam konteks tersebut, SATRIA-1 menjadi salah satu instrumen penting pemerintah untuk memperluas konektivitas ke wilayah yang sulit dijangkau jaringan terestrial.

Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut SATRIA-1 dapat memberikan kecepatan sekitar 3–4 Mbps pada titik layanan tertentu dan dapat digunakan untuk titik-titik strategis seperti pendidikan, kesehatan, pemerintahan dan pertahanan.

Untuk sekolah di wilayah yang sebelumnya mengalami keterbatasan internet, kehadiran koneksi tersebut dapat memberikan perubahan yang cukup besar.

Sekolah tidak lagi harus sepenuhnya bergantung pada jaringan seluler di sekitar lokasi.

Ground segment satelit dapat dipasang langsung pada titik layanan yang membutuhkan konektivitas.

Artinya, satelit dapat menjadi solusi ketika pembangunan infrastruktur terestrial membutuhkan waktu lebih panjang atau secara ekonomi belum memungkinkan.

31.000 Lokasi dan Mayoritas untuk Pendidikan

Skala pembangunan konektivitas BAKTI juga menunjukkan betapa pentingnya sektor pendidikan dalam agenda pemerataan internet.

Hingga 2026, pembangunan akses internet BAKTI telah menjangkau lebih dari 31.000 lokasi. Sekitar 68 persen di antaranya berada pada sektor pendidikan.

Angka tersebut menarik karena menunjukkan bahwa konektivitas pendidikan bukan sekadar program tambahan.

Sekolah justru menjadi salah satu sasaran utama pembangunan infrastruktur digital.

Dan alasannya sangat masuk akal.

Satu titik internet di sekolah dapat memberikan manfaat kepada guru, siswa, tenaga kependidikan dan masyarakat sekitar sekaligus.

Starlink Melengkapi Konektivitas SATRIA-1

Jika SATRIA-1 menjadi bagian dari strategi konektivitas pemerintah, teknologi satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO) seperti Starlink menawarkan pendekatan berbeda.

Starlink dapat digunakan pada lokasi yang sulit memperoleh jaringan terestrial dan membutuhkan koneksi dengan kapasitas lebih besar untuk aktivitas internet yang lebih interaktif.

Di Maluku Tengah, langkah tersebut sudah mulai terlihat.

Pada 29 Oktober 2025, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah menyerahkan perangkat internet Starlink secara simbolis kepada sejumlah sekolah di wilayah 3T. Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Lelemuku Masohi dan merupakan bagian dari kerja sama dengan program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia).

Perangkat tersebut ditujukan untuk sekolah-sekolah pesisir dan pulau kecil yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses internet.

Bagi sekolah di wilayah seperti ini, keberadaan koneksi internet bukan sekadar membuat siswa bisa membuka media sosial.

Manfaat yang jauh lebih penting adalah membuka akses terhadap:

  • sumber belajar online;
  • video pembelajaran;
  • platform pendidikan;
  • komunikasi antara guru dan sekolah;
  • administrasi pendidikan;
  • pelatihan guru;
  • asesmen berbasis komputer;
  • konferensi video;
  • perpustakaan digital; dan
  • berbagai layanan pemerintah berbasis internet.

SATRIA-1 dan Starlink Tidak Harus Dipertentangkan

Ada kecenderungan melihat SATRIA-1 dan Starlink sebagai dua teknologi yang harus dipilih salah satunya.

Menurut saya, pendekatan tersebut justru kurang tepat.

Keduanya dapat ditempatkan dalam ekosistem konektivitas yang saling melengkapi.

SATRIA-1 merupakan bagian dari infrastruktur konektivitas pemerintah untuk melayani kebutuhan publik di lokasi yang sulit dijangkau jaringan terestrial.

Sementara Starlink dapat menjadi salah satu alternatif konektivitas ketika sekolah atau komunitas membutuhkan akses internet dengan karakteristik layanan yang berbeda.

Pendekatan hibrida seperti ini justru lebih realistis untuk kondisi geografis Maluku.

BAKTI sendiri menegaskan bahwa pembangunan konektivitas tidak harus bergantung pada satu jenis teknologi. Infrastruktur terestrial seperti BTS dan serat optik dapat dikombinasikan dengan solusi non-terestrial seperti satelit sesuai kondisi geografis setiap wilayah.

Dengan pendekatan tersebut, peta konektivitas Maluku tidak harus berbentuk satu jaringan yang seragam.

Yang dibutuhkan adalah jaringan yang menyesuaikan kondisi masing-masing pulau.

Tantangan Berikutnya Bukan Lagi Sekadar Internet

Mendapatkan internet hanyalah tahap pertama.

Persoalan yang jauh lebih besar adalah bagaimana internet tersebut digunakan.

Bayangkan sebuah sekolah memiliki koneksi internet yang cepat, tetapi guru belum mendapatkan pelatihan untuk memanfaatkannya.

Komputer tersedia, tetapi tidak ada pengelolaan perangkat.

Internet tersedia, tetapi siswa hanya menggunakannya untuk hiburan.

Koneksi sudah masuk, tetapi tidak ada kebijakan keamanan digital.

Dalam kondisi tersebut, pembangunan infrastruktur berpotensi menghasilkan manfaat yang jauh lebih kecil daripada investasi yang telah dikeluarkan.

Karena itu, literasi digital harus berjalan bersama pembangunan konektivitas.

Kementerian Komdigi juga menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat mampu mengenali hoaks, misinformasi dan disinformasi. Pemerintah juga mendorong pengembangan kapasitas digital melalui program seperti Digital Talent Scholarship dan Digital Leadership Academy.

Guru Harus Menjadi Bagian dari Transformasi

Salah satu faktor paling menentukan keberhasilan internet sekolah adalah guru.

Teknologi secanggih apa pun tidak akan otomatis meningkatkan kualitas pendidikan apabila tidak diikuti perubahan cara mengajar.

Guru di daerah terpencil perlu mendapatkan akses terhadap:

Pelatihan teknologi

Bukan hanya cara menggunakan komputer, tetapi juga bagaimana memilih dan menggunakan teknologi untuk pembelajaran.

Sumber belajar digital

Guru perlu mengetahui platform, perpustakaan digital, video pembelajaran dan sumber akademik yang kredibel.

Keamanan digital

Guru juga harus memahami keamanan akun, perlindungan data siswa, phishing, malware dan berbagai ancaman digital.

Pemanfaatan AI

Perkembangan kecerdasan buatan membuka peluang baru untuk membantu guru menyusun materi, mencari ide pembelajaran dan mengembangkan evaluasi. Namun penggunaannya harus tetap memperhatikan etika, akurasi dan perlindungan data.

Dengan kata lain, pembangunan infrastruktur harus diikuti pembangunan kapasitas manusia.

Jangan Sampai Sekolah Hanya Menjadi “Tempat Internet”

Ada risiko lain yang harus diperhatikan.

Sekolah mendapatkan Starlink atau SATRIA-1, tetapi setelah beberapa bulan perangkat tidak terawat.

Router bermasalah.

Kabel rusak.

Listrik tidak stabil.

Akun layanan tidak dikelola.

Tidak ada orang yang bertanggung jawab terhadap perangkat.

Akhirnya konektivitas yang awalnya menjadi solusi justru berhenti digunakan secara optimal.

Karena itu, setiap program konektivitas sekolah sebaiknya memiliki operator atau pengelola teknologi yang jelas.

Sekolah juga perlu memiliki prosedur sederhana untuk:

  1. memantau perangkat;
  2. menjaga keamanan jaringan;
  3. mengatur penggunaan bandwidth;
  4. melakukan pemeliharaan;
  5. mencatat gangguan;
  6. melakukan backup;
  7. mengatur akun pengguna; dan
  8. melaporkan kebutuhan teknis.

Di sinilah tenaga IT lokal memiliki peran penting.

Maluku Membutuhkan Ekosistem, Bukan Sekadar Perangkat

Transformasi digital pendidikan tidak akan berhasil jika hanya berbentuk proyek pemasangan perangkat.

Yang dibutuhkan adalah ekosistem.

Ekosistem tersebut setidaknya terdiri dari lima unsur:

Infrastruktur

SATRIA-1, Starlink, BTS, fiber optik, jaringan lokal dan sumber listrik.

Sumber Daya Manusia

Guru, kepala sekolah, operator, tenaga IT dan siswa yang memiliki kemampuan digital.

Konten

Materi pembelajaran digital yang relevan dengan kebutuhan siswa dan kondisi lokal Maluku.

Keamanan

Perlindungan data, keamanan perangkat, manajemen akun dan literasi terhadap ancaman siber.

Pendampingan

Sekolah tidak cukup hanya diberikan perangkat. Mereka membutuhkan pendampingan agar teknologi benar-benar digunakan.

Program INOVASI di Maluku Tengah memberikan contoh bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan mitra pendidikan dapat menjadi bagian penting dalam memperluas akses digital sekolah di wilayah 3T.

Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Sekadar Pendidikan

Jika dikelola dengan baik, konektivitas sekolah dapat menjadi pintu masuk transformasi digital masyarakat di sekitarnya.

Sekolah dapat menjadi pusat pengetahuan digital desa.

Guru dapat membantu masyarakat memahami layanan pemerintahan online.

Siswa dapat menjadi generasi pertama dalam keluarga yang terbiasa menggunakan teknologi untuk belajar dan bekerja.

Pelaku UMKM dapat mulai mengenal pemasaran online.

Masyarakat dapat mengakses informasi kesehatan dan layanan publik.

Artinya, investasi internet untuk sekolah dapat menghasilkan efek domino yang jauh lebih luas.

Hal ini sejalan dengan arah BAKTI yang tidak hanya melihat konektivitas dari sisi akses, tetapi juga keberlanjutan masyarakat, kualitas layanan, skalabilitas untuk UMKM dan keberlanjutan industri telekomunikasi.

Apa yang Perlu Dilakukan Selanjutnya?

Menurut saya, ada beberapa langkah yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah, sekolah dan mitra pembangunan.

Pertama, petakan semua titik blank spot

Pemerintah perlu memiliki data yang jelas mengenai sekolah mana yang belum memiliki internet, kualitas koneksi yang tersedia dan kebutuhan bandwidth masing-masing sekolah.

Kedua, gunakan teknologi sesuai kondisi wilayah

Tidak semua sekolah harus menggunakan teknologi yang sama.

Ada lokasi yang lebih cocok dengan fiber optik, ada yang membutuhkan BTS, dan ada pula yang lebih rasional menggunakan satelit.

Ketiga, bangun kapasitas guru

Pelatihan harus menjadi bagian dari program sejak awal, bukan diberikan setelah perangkat dipasang.

Keempat, siapkan tenaga teknis lokal

Kehadiran teknisi atau operator lokal akan membuat pemeliharaan lebih cepat dan mengurangi ketergantungan pada tim dari luar daerah.

Kelima, perkuat keamanan digital

Sekolah perlu memiliki standar keamanan dasar, termasuk penggunaan password yang kuat, autentikasi, backup dan edukasi mengenai penipuan digital.

Keenam, ukur dampaknya

Keberhasilan program jangan hanya diukur dari jumlah perangkat yang dipasang.

Indikator yang lebih penting adalah:

Berapa sekolah yang benar-benar aktif menggunakan internet?

Berapa guru yang memanfaatkannya untuk pembelajaran?

Berapa siswa yang mendapatkan manfaat?

Apakah hasil belajar meningkat?

Apakah administrasi sekolah menjadi lebih efisien?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah antena yang telah terpasang.

Penutup: Dari Blank Spot Menuju Smart School

SATRIA-1 dan Starlink untuk konektivitas pendidikan di Maluku | ImanRoems.Web.Id

Transformasi digital pendidikan di Maluku sedang memasuki babak baru.

SATRIA-1 memberikan peluang bagi pemerintah untuk memperluas konektivitas ke titik-titik yang sulit dijangkau jaringan terestrial. Sementara itu, adopsi Starlink di sejumlah sekolah Maluku Tengah menunjukkan bahwa teknologi satelit LEO dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperluas akses internet di kawasan pesisir dan pulau kecil.

Namun, teknologi bukanlah tujuan akhir.

Tujuan sebenarnya adalah memastikan bahwa seorang anak yang tinggal di pulau kecil di Maluku memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, mencari informasi dan mengembangkan kemampuan seperti anak yang tinggal di kota besar.

Karena itu, keberhasilan transformasi digital Maluku tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak sekolah yang sudah terkoneksi internet.

Keberhasilan harus diukur dari apa yang terjadi setelah sekolah terkoneksi.

Apakah guru menjadi lebih produktif?

Apakah siswa memperoleh sumber belajar yang lebih luas?

Apakah sekolah menjadi lebih efisien?

Apakah masyarakat ikut mendapatkan manfaat?

Dan yang paling penting, apakah anak-anak Maluku semakin memiliki kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri?

Jika jawabannya iya, maka SATRIA-1 dan Starlink bukan sekadar teknologi satelit.

Keduanya menjadi bagian dari jalan panjang untuk memastikan bahwa jarak antarpulau tidak lagi menjadi jarak terhadap kesempatan belajar.


Sumber dan Referensi