Mematikan Nalar Demi Nilai: Ketika Mahasiswa Menggunakan AI sebagai Jalan Pintas

mahasiswa-menggunakan-ai-untuk-tugas

AI seharusnya membantu mahasiswa berpikir lebih cepat dan lebih luas. Namun ketika kecerdasan buatan hanya digunakan untuk mencari jawaban tugas, ada sesuatu yang perlahan hilang: proses belajar dan kemampuan berpikir itu sendiri.

Ada satu perubahan kecil tetapi penting yang terjadi di dunia perkuliahan dalam beberapa tahun terakhir.

Dulu, ketika dosen memberikan tugas, mahasiswa mungkin akan membuka buku, mencari jurnal, berdiskusi dengan teman, atau menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan dan mesin pencari.

Sekarang, cukup membuka chatbot AI.

Ketik pertanyaan.

Tunggu beberapa detik.

Jawaban pun muncul.

Persoalannya bukan pada teknologi tersebut.

AI memang luar biasa. Ia bisa membantu menjelaskan konsep yang sulit, merangkum bacaan, mencari sudut pandang, membantu menyusun kerangka tulisan, bahkan menjadi teman berdiskusi.

Masalah muncul ketika mahasiswa tidak lagi menggunakan AI untuk membantu berpikir, tetapi menggunakannya untuk menggantikan proses berpikir.

Di titik inilah AI berubah dari alat bantu belajar menjadi jalan pintas.

Indonesia Menjadi Salah Satu Pengguna AI Mahasiswa Tertinggi

Penggunaan AI di kalangan mahasiswa Indonesia bukan lagi fenomena kecil.

Data Global Student Survey 2025 dari Chegg menunjukkan bahwa 95% responden mahasiswa Indonesia menggunakan GenAI dalam proses pembelajaran. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di antara 15 negara yang masuk dalam survei tersebut. Secara global, sekitar 80% mahasiswa yang disurvei telah menggunakan GenAI untuk mendukung studi mereka.

Yang menarik adalah pola penggunaannya.

Di Indonesia, 86% responden menggunakan GenAI untuk membantu tugas akademik. Sementara itu, 52% menggunakannya untuk membantu perencanaan pengembangan karier dan 33% untuk menyusun jadwal pribadi.

Artinya, penggunaan AI di kalangan mahasiswa Indonesia memang sangat tinggi.

Tetapi angka 86% tersebut tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai “86% mahasiswa menyontek”.

Itu adalah angka penggunaan AI untuk tugas akademik. Ada mahasiswa yang menggunakannya untuk memahami materi, mencari ide, memperbaiki tulisan, atau memeriksa jawaban.

Namun, ada juga persoalan lain yang tidak kalah penting.

Dosen Universitas Mataram, Aliurridha, mengatakan kepada GoodStats bahwa dalam pengamatannya di kelas, hanya sekitar 10–15% mahasiswa yang mengerjakan tugas tanpa AI atau menggunakan AI sebatas brainstorming. Sementara sekitar 85–90% lainnya, menurut pengamatannya, cenderung menyalin jawaban AI dengan penyuntingan yang sangat tipis.

Temuan tersebut memang bukan survei nasional terhadap seluruh mahasiswa Indonesia.

Tetapi ia memberikan gambaran tentang sesuatu yang patut dipikirkan: seberapa banyak mahasiswa benar-benar belajar ketika menggunakan AI?

AI: Membantu Belajar atau Sekadar Memberikan Jawaban?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika melihat pola penggunaan AI di berbagai negara.

Dalam Global AI Student Survey 2024 dari Digital Education Council, 86% mahasiswa dari 16 negara menyatakan telah menggunakan AI dalam studi mereka. Survei ini melibatkan 3.839 mahasiswa jenjang sarjana, magister dan doktoral.

Namun penggunaan AI tidak semuanya bersifat kreatif.

Penggunaan paling banyak adalah mencari informasi, sebesar 69%.

Kemudian 42% menggunakan AI untuk memeriksa tata bahasa, 33% untuk meringkas dokumen, 28% untuk melakukan parafrase, dan hanya 24% untuk membuat draf pertama.

Data tersebut menarik.

AI yang seharusnya dapat menjadi partner berpikir ternyata paling sering digunakan seperti mesin pencari yang lebih canggih.

Mahasiswa bertanya.

AI menjawab.

Selesai.

Padahal proses pendidikan tidak sesederhana itu.

Belajar bukan sekadar mendapatkan informasi.

Belajar adalah proses ketika seseorang mencoba memahami informasi, mempertanyakannya, membandingkannya dengan pengetahuan lain, membuat kesalahan, memperbaiki kesalahan dan akhirnya membangun pemahaman sendiri.

Kalau semua proses tersebut dilewati, mahasiswa mungkin mendapatkan jawaban.

Tetapi belum tentu mendapatkan pengetahuan.

Fenomena Ini Tidak Hanya Terjadi di Indonesia

Persoalan yang sama juga terlihat pada pelajar di Amerika Serikat.

Dalam survei nasional Common Sense Media terhadap 1.017 remaja usia 13–17 tahun, sebanyak 70% mengatakan mereka menggunakan AI untuk tugas sekolah. Di antara mereka yang menggunakan AI, 63% menggunakannya untuk mendapatkan jawaban.

Yang dilakukan terhadap jawaban tersebut juga beragam.

Sekitar 25% menggunakan jawaban AI apa adanya.

Sebanyak 31% menulis ulang jawaban tersebut agar terdengar seperti gaya mereka sendiri.

Sementara 35% mencoba memperbaiki jawaban AI menggunakan pengetahuan mereka sendiri.

Yang lebih mengkhawatirkan, 38% remaja pengguna AI mengatakan bahwa keberadaan AI membuat mereka menghasilkan lebih sedikit ide sendiri, sementara 39% merasa kehilangan kesempatan belajar ketika menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas.

Dengan kata lain, para siswa sendiri mulai menyadari paradoksnya.

AI memang membuat tugas lebih mudah.

Tetapi sesuatu yang mudah belum tentu membuat seseorang lebih pintar.

Masalahnya Dimulai Ketika Kita Memulai dari Jawaban

Bayangkan seorang mahasiswa mendapatkan tugas untuk menganalisis persoalan pelayanan publik di daerahnya.

Ada dua cara.

Cara pertama:

Mahasiswa membaca beberapa jurnal, mengamati persoalan di lapangan, membuat argumentasi sendiri, kemudian menggunakan AI untuk menguji apakah argumentasinya masuk akal.

Cara kedua:

Mahasiswa langsung menulis:

“Buatkan analisis tentang masalah pelayanan publik di daerah.”

Beberapa detik kemudian, esai selesai.

Mahasiswa membaca sekilas, mengganti beberapa kata, lalu mengumpulkannya.

Keduanya sama-sama menggunakan AI.

Tetapi proses belajarnya sangat berbeda.

Cara pertama menggunakan AI sebagai asisten berpikir.

Cara kedua menggunakan AI sebagai pengganti berpikir.

Michael Robb dari Common Sense Media memberikan perhatian khusus pada persoalan ini. Menurutnya, persoalan muncul ketika siswa mendapatkan jawaban sebelum mereka mencoba mengerjakan masalah tersebut sendiri. Kondisi ini dapat mengurangi kesempatan untuk melatih kemampuan eksekutif seperti memulai pekerjaan yang sulit dan menghasilkan ide secara fleksibel.

Jadi masalah sebenarnya bukan sekadar “AI membuat mahasiswa malas”.

Masalahnya lebih halus.

AI membuat jalan pintas menjadi sangat mudah.

Dan manusia, termasuk mahasiswa, secara alami akan tergoda memilih jalan yang paling mudah ketika tidak ada alasan kuat untuk memilih jalan yang lebih sulit.

Mengapa Mahasiswa Memilih Jalan Pintas?

Di sinilah kita perlu berhenti menyalahkan mahasiswa semata.

Menggunakan AI untuk tugas tidak selalu lahir dari kemalasan.

Ada mahasiswa yang menghadapi tugas bertumpuk.

Ada yang bekerja sambil kuliah.

Ada yang harus mengurus organisasi.

Ada yang memiliki kemampuan menulis rendah tetapi harus membuat banyak makalah.

Ada pula yang mengalami tekanan untuk mendapatkan nilai tinggi.

Dalam kondisi seperti itu, AI terasa seperti penyelamat.

Satu perintah dapat menghasilkan sesuatu yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam.

Namun persoalannya adalah ketika kemudahan tersebut menjadi kebiasaan.

Hari ini mahasiswa menggunakan AI karena sedang kepepet.

Besok karena tidak sempat membaca.

Lusa karena merasa tidak bisa menulis.

Lama-lama, tanpa AI tugas terasa mustahil dikerjakan.

Di situlah ketergantungan mulai terbentuk.

Akar Masalahnya Bukan Hanya Teknologi

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga melihat fenomena penggunaan AI untuk menyontek melalui pendekatan Social Cognitive Theory (SCT) dari Albert Bandura.

Dalam teori tersebut, perilaku manusia tidak berdiri sendiri. Ia dipengaruhi oleh hubungan timbal balik antara faktor personal, lingkungan dan perilaku.

Dalam konteks mahasiswa, tekanan akademik, keyakinan terhadap kemampuan diri yang rendah dan lingkungan akademik yang permisif dapat menjadi kombinasi yang mendorong perilaku menyontek menggunakan AI.

Masalah menjadi lebih besar ketika mahasiswa merasa:

“Semua orang juga menggunakan AI.”

Ditambah lagi dengan pikiran:

“Yang penting tidak ketahuan.”

Jika perilaku tersebut tidak mendapatkan konsekuensi, maka lama-kelamaan ia dapat dianggap normal.

Bukan lagi dianggap menyontek.

Hanya dianggap sebagai “cara mengerjakan tugas”.

Padahal perbedaannya sangat besar.

Pemerintah Juga Sudah Mengingatkan

Kekhawatiran mengenai penggunaan AI untuk tugas akademik juga telah muncul di tingkat pemerintah.

Pada Desember 2024, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan bahwa 87% pelajar menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, berdasarkan survei yang dirujuk pemerintah dari Tirto dan Jakpat.

Namun penting dicatat, pernyataan tersebut bukan berarti pemerintah menolak penggunaan AI.

Meutya justru menekankan perlunya kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi.

Pesannya sederhana:

AI boleh digunakan. Tetapi penggunaannya harus bertanggung jawab.

Dan prinsip ini seharusnya berlaku juga di perguruan tinggi.

Apakah AI Benar-Benar Membuat Otak Menurun?

Bagian ini perlu dibahas dengan hati-hati.

Beberapa pemberitaan mengenai penelitian MIT sempat menggunakan judul yang sangat keras, seolah-olah penelitian tersebut telah membuktikan bahwa ChatGPT “merusak otak”.

Kesimpulan seperti itu terlalu jauh.

Penelitian “Your Brain on ChatGPT” memang melaporkan adanya perbedaan pola keterlibatan dan konektivitas otak pada peserta yang menggunakan LLM dibandingkan kelompok yang menggunakan mesin pencari atau tidak menggunakan alat eksternal ketika mengerjakan tugas menulis.

Namun temuan tersebut tidak boleh disederhanakan menjadi klaim bahwa AI terbukti merusak otak manusia.

Yang lebih aman secara ilmiah adalah mengatakan bahwa penelitian tersebut memberikan sinyal bahwa cara kita menggunakan AI dapat memengaruhi tingkat keterlibatan kognitif dalam proses belajar.

Ini sejalan dengan kekhawatiran Common Sense Media.

Jika AI selalu mengambil bagian yang paling sulit dari proses belajar—mencari ide, menyusun argumentasi, membuat draf dan memecahkan masalah—maka mahasiswa kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan tersebut.

Masalahnya bukan sekadar apa yang dilakukan AI.

Masalahnya adalah apa yang berhenti dilakukan manusia karena AI.

Gelar Tinggi, Tetapi Kemampuan Tidak Teruji

Ada satu skenario yang seharusnya membuat kampus berpikir ulang.

Seorang mahasiswa memperoleh nilai A untuk sebuah makalah.

Makalahnya rapi.

Bahasanya bagus.

Referensinya banyak.

Kesimpulannya terlihat meyakinkan.

Tetapi ketika dosen bertanya:

“Kenapa Anda menggunakan teori tersebut?”

“Bagaimana Anda memperoleh kesimpulan ini?”

“Apakah Anda bisa menjelaskan argumentasi pada halaman tiga?”

Mahasiswa tersebut tidak mampu menjawab.

Kalau itu terjadi, siapa sebenarnya yang belajar?

Mahasiswa atau AI?

Inilah bahaya terbesar dari penggunaan AI sebagai jalan pintas.

Mahasiswa dapat memperoleh hasil akademik tanpa mengalami proses akademik secara utuh.

Nilai tetap ada.

Tugas selesai.

Ijazah mungkin tetap diperoleh.

Tetapi kompetensi yang seharusnya dibangun selama bertahun-tahun kuliah belum tentu ikut tumbuh.

Dunia Kerja Tidak Hanya Membutuhkan Orang yang Bisa Menggunakan AI

Ironisnya, ketika mahasiswa terlalu bergantung pada AI, mereka justru berisiko kehilangan kemampuan yang semakin berharga di dunia kerja.

Perusahaan tidak hanya membutuhkan orang yang dapat mengetik prompt.

Perusahaan membutuhkan orang yang mampu:

  • berpikir kritis;
  • memecahkan masalah;
  • memeriksa kebenaran informasi;
  • berkomunikasi;
  • bekerja sama;
  • mengambil keputusan;
  • memahami konteks;
  • bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan.

Common Sense Media menemukan bahwa para remaja sendiri menilai kemampuan bekerja dengan orang lain, fact-checking, berpikir kritis, serta memahami informasi kompleks sebagai keterampilan yang sangat penting bagi masa depan mereka.

Ironisnya, justru kemampuan-kemampuan tersebut dapat tergerus jika AI selalu digunakan untuk melewati bagian tersulit dari proses berpikir.

Jadi, Haruskah AI Dilarang di Kampus?

Menurut saya, tidak.

Melarang AI sepenuhnya bukan solusi realistis.

Mahasiswa akan tetap menemukan AI di luar kampus.

Dunia kerja juga akan menggunakannya.

Bahkan dosen dan institusi pendidikan sendiri akan semakin membutuhkan AI untuk berbagai kebutuhan.

Yang harus diubah bukan keberadaan AI.

Yang harus diubah adalah cara kita menggunakannya.

Mahasiswa harus diajarkan bahwa AI bukan mesin jawaban.

AI adalah alat bantu.

Cara Menggunakan AI Secara Cerdas untuk Belajar

Daripada meminta:

“Buatkan makalah 2.000 kata tentang manajemen pendidikan.”

Lebih baik meminta:

“Saya sedang mempelajari manajemen pendidikan. Jelaskan konsep utamanya, kemudian berikan lima pertanyaan kritis yang bisa saya gunakan untuk menguji pemahaman saya.”

Daripada:

“Jawab soal ini.”

Coba:

“Jangan berikan jawabannya. Berikan petunjuk agar saya dapat menyelesaikannya sendiri.”

Daripada:

“Perbaiki makalah saya.”

Coba:

“Tunjukkan bagian argumentasi saya yang lemah dan jelaskan mengapa bagian tersebut perlu diperbaiki.”

Perbedaannya terlihat kecil.

Tetapi secara pendidikan sangat besar.

Pada pola pertama, AI mengambil alih pekerjaan.

Pada pola kedua, AI membantu melatih manusia.

Dosen Juga Harus Mengubah Cara Memberikan Tugas

Tidak adil jika seluruh kesalahan dibebankan kepada mahasiswa.

Dosen juga perlu menyesuaikan metode evaluasi.

Tugas yang hanya meminta mahasiswa menghasilkan esai teoritis memang semakin mudah diselesaikan oleh AI.

Karena itu, penilaian dapat diarahkan pada proses.

Misalnya:

1. Presentasi dan tanya jawab

Mahasiswa tidak hanya menyerahkan makalah, tetapi harus menjelaskan dan mempertahankan argumentasinya.

2. Proyek berbasis masalah

Mahasiswa mengerjakan persoalan nyata di lingkungan mereka.

3. Refleksi pribadi

Mahasiswa menjelaskan bagaimana mereka sampai pada kesimpulan tertentu.

4. Proses penulisan

Dosen menilai kerangka, draf, revisi dan hasil akhir.

5. Observasi lapangan

Mahasiswa harus menghubungkan teori dengan realitas yang mereka temukan sendiri.

Dengan metode seperti ini, AI tidak perlu dilarang.

Tetapi mahasiswa tetap harus menunjukkan bahwa mereka memahami apa yang mereka kumpulkan.

Kampus Perlu Membuat Aturan AI yang Jelas

Salah satu masalah terbesar saat ini adalah aturan penggunaan AI yang belum selalu jelas.

Mahasiswa perlu mengetahui:

Apa yang diperbolehkan?

Apa yang harus dilaporkan?

Apa yang dianggap sebagai pelanggaran akademik?

Contohnya:

Penggunaan yang dapat diperbolehkan:

  • brainstorming;
  • meminta penjelasan konsep;
  • mencari alternatif sudut pandang;
  • memeriksa tata bahasa;
  • membuat pertanyaan latihan;
  • mendapatkan umpan balik terhadap tulisan.

Penggunaan yang perlu transparansi:

  • menggunakan AI dalam proses penyusunan tulisan;
  • menggunakan AI untuk meringkas bahan;
  • menggunakan AI untuk membantu analisis tertentu.

Penggunaan yang bermasalah:

  • menyerahkan seluruh tulisan AI sebagai karya sendiri;
  • menggunakan AI untuk mengerjakan ujian yang melarang bantuan;
  • membuat data penelitian palsu;
  • membuat referensi fiktif;
  • menyembunyikan penggunaan AI ketika aturan akademik mewajibkan deklarasi.

Kampus tidak cukup mengatakan:

“Jangan gunakan AI.”

Kampus harus mengajarkan:

“Gunakan AI dengan benar.”

Jangan Sampai Kita Mendidik Generasi yang Tak Bisa Berpikir Tanpa AI

Inilah inti persoalannya.

Kita tidak sedang berada dalam perang melawan AI.

Kita sedang berada dalam masa transisi pendidikan.

Pertanyaannya bukan:

“Apakah mahasiswa boleh menggunakan AI?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

“Kemampuan apa yang tetap harus dimiliki mahasiswa meskipun AI semakin pintar?”

Jawabannya adalah kemampuan manusia.

Kemampuan bertanya.

Kemampuan meragukan informasi.

Kemampuan memahami konteks.

Kemampuan berdiskusi.

Kemampuan mengambil keputusan.

Kemampuan bertanggung jawab.

Dan yang paling penting:

kemampuan berpikir.

AI dapat membantu kita menghasilkan jawaban.

Tetapi manusia tetap harus menentukan apakah jawaban itu benar, relevan dan layak dipercaya.

Kesimpulan: Jangan Menukar Nalar dengan Nilai

mahasiswa-menggunakan-ai-untuk-tugas

Penggunaan AI di kalangan mahasiswa Indonesia sudah menjadi kenyataan.

Survei Chegg menunjukkan 95% responden mahasiswa Indonesia menggunakan GenAI dalam pembelajaran, dengan 86% menggunakannya untuk membantu tugas akademik.

Di tingkat global, Digital Education Council menemukan 86% mahasiswa dalam surveinya menggunakan AI untuk studi, sementara pencarian informasi menjadi penggunaan paling umum dengan 69%.

Di kalangan remaja Amerika Serikat, Common Sense Media menemukan 70% menggunakan AI untuk tugas sekolah dan 63% pengguna AI tersebut mendapatkan jawaban dari AI.

Semua angka tersebut menunjukkan satu hal:

AI sudah masuk ke ruang belajar dan tidak akan pergi.

Karena itu, melarangnya bukan jawaban utama.

Yang harus kita cegah adalah ketika mahasiswa mulai kehilangan kemampuan untuk belajar tanpa AI.

Sebab mendapatkan jawaban bukanlah tujuan utama pendidikan.

Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang mampu menemukan, memahami, mempertanyakan dan mempertanggungjawabkan jawaban.

AI seharusnya membuat mahasiswa semakin cerdas.

Bukan semakin bergantung.

AI seharusnya menjadi asisten berpikir, bukan pengganti pikiran.

Karena pada akhirnya, nilai A hanya tercetak di lembar akademik.

Tetapi kemampuan berpikir akan menentukan bagaimana seseorang menjalani hidup dan menghadapi dunia setelah meninggalkan kampus.

Jangan sampai demi mendapatkan nilai dengan cepat, kita justru membayar dengan sesuatu yang jauh lebih mahal: kemampuan untuk berpikir sendiri.


Referensi

  1. GoodStats. Benarkah Mahasiswa RI Ketagihan AI? 22 Juli 2025. Data Global Student Survey 2025 dan wawancara dengan dosen Universitas Mataram.
  2. Digital Education Council. Global AI Student Survey 2024. Survei terhadap 3.839 mahasiswa dari 16 negara.
  3. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Menguak Akar Perilaku Menyontek: Maraknya Penggunaan AI (Artificial Intelligence) di Kalangan Mahasiswa. 17 November 2025.
  4. detikJogja. Menkomdigi Sebut 87 Persen Pelajar Gunakan AI untuk Kerjakan Tugas. Pernyataan Menteri Komunikasi dan Digital mengenai penggunaan AI oleh pelajar.
  5. Common Sense Media / Youth AI Safety Institute. Teens in the AI Era: Schoolwork and Skills That Matter. Agustus 2026. Survei terhadap 1.017 remaja Amerika Serikat.
  6. KQED. Most Teens Use AI for Homework, Even if Some Think They’re Missing Out on Learning. 18 Agustus 2026.
Bagikan artikel
WhatsApp Facebook LinkedIn
Foto Sudirman Rumakeffing
Tentang Penulis

Sudirman Rumakeffing, S.Sos., M.A.P.

Akademisi • Praktisi Administrasi Publik • Peneliti • Web Developer

Akademisi dan praktisi administrasi publik yang berbagi pengetahuan tentang teknologi, penelitian, transformasi digital, dan pengembangan masyarakat.