Setiap perjalanan memiliki cerita. Tidak semuanya terlihat oleh orang lain, tetapi setiap proses selalu meninggalkan sesuatu untuk kita pelajari.
Kalau saya melihat kembali perjalanan yang sudah saya jalani sampai sekarang, ternyata cukup banyak hal yang sudah terjadi. Ada yang memang saya rencanakan sejak awal, tetapi tidak sedikit juga yang datang begitu saja dan kemudian menjadi bagian dari hidup saya.
Saya bukan orang yang selalu tahu harus ke mana sejak awal. Ada masa ketika saya hanya menjalani apa yang ada di depan saya. Sekolah, bekerja, belajar lagi, kemudian mendapat tanggung jawab yang berbeda. Dari satu pengalaman ke pengalaman berikutnya, saya mulai memahami bahwa setiap tahap memiliki pelajarannya sendiri.
Saya tidak menganggap apa yang saya capai hari ini datang dengan mudah. Ada proses yang panjang, rasa lelah, pekerjaan yang harus diselesaikan, serta keadaan yang membuat saya belajar menerima bahwa tidak semua hal dapat berjalan sesuai dengan rencana.
Dari semua itu saya belajar satu hal sederhana:
Setiap proses selalu meninggalkan pelajaran.
Pendidikan dan Keinginan untuk Terus Belajar
Pendidikan adalah salah satu bagian penting dalam perjalanan saya.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana dan memperoleh gelar S.Sos., saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister Administrasi Publik.
Keputusan untuk kembali belajar bukan sesuatu yang selalu mudah. Pada saat yang sama, ada pekerjaan dan tanggung jawab lain yang tetap harus dijalankan. Waktu harus dibagi dan banyak hal harus dikerjakan secara bersamaan.
Tetapi saya berpikir:
Kalau masih ada kesempatan untuk belajar, kenapa harus berhenti?
Akhirnya saya menyelesaikan pendidikan magister dan memperoleh gelar S.Sos., M.A.P.
Bagi orang lain mungkin gelar tersebut hanya terlihat sebagai tambahan di belakang nama. Bagi saya, ada cerita panjang di baliknya.
Ada waktu yang harus dikorbankan.
Ada tugas yang harus diselesaikan.
Ada rasa lelah.
Dan ada rasa syukur ketika akhirnya semua proses tersebut bisa dilewati.
Saya kemudian semakin memahami bahwa pendidikan sebenarnya tidak berhenti ketika kita mendapatkan ijazah. Justru setelah selesai kuliah, saya merasa masih banyak hal yang harus dipelajari.
Belajar dari Dunia Kerja
Dunia kerja mengajarkan hal yang berbeda dari apa yang kita dapatkan di ruang kelas.
Di ruang kelas kita belajar teori. Di tempat kerja kita berhadapan langsung dengan keadaan yang sebenarnya.
Tidak semua persoalan memiliki jawaban yang mudah. Tidak semua orang memiliki cara berpikir yang sama. Tidak semua rencana berjalan seperti yang sudah dibuat.
Dari situ saya belajar bahwa bekerja bukan hanya tentang menyelesaikan tugas.
Ada tanggung jawab.
Ada komunikasi.
Ada kerja sama.
Ada kesabaran.
Dan ada saat-saat ketika kita harus mencari jalan keluar dari persoalan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Pengalaman tersebut perlahan memengaruhi cara saya bekerja dan mengambil keputusan. Saya belajar untuk tidak terlalu cepat menilai sesuatu. Saya belajar mendengarkan terlebih dahulu. Saya juga belajar bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana sekalipun bisa memiliki arti bagi orang lain.
Perjalanan di STIA ALAZKA Ambon
Salah satu bagian penting dalam perjalanan profesional saya adalah ketika saya terlibat di STIA Abdul Azis Kataloka (STIA ALAZKA) Ambon.
Bekerja di lingkungan perguruan tinggi membuat saya bertemu dengan banyak hal. Ada pekerjaan administrasi, pengelolaan data, kebutuhan akademik, mahasiswa, dosen, teknologi, sampai berbagai persoalan kelembagaan.
Saya juga dipercaya menjalankan beberapa tanggung jawab, antara lain sebagai Staf Administrasi, Kepala Laboratorium Komputer, dan pengelola KIP Kuliah.
Dari pekerjaan tersebut saya mendapatkan pemahaman yang mungkin sebelumnya tidak terlalu saya pikirkan.
Administrasi bukan hanya soal berkas.
Di balik sebuah data mahasiswa ada seseorang yang sedang berusaha menyelesaikan pendidikannya.
Di balik sebuah dokumen ada kebutuhan yang harus diselesaikan.
Di balik sebuah pelayanan ada orang yang berharap urusannya bisa berjalan dengan baik.
Karena itu, saya belajar untuk lebih teliti dalam bekerja. Kesalahan kecil dalam mengelola data atau dokumen bisa saja memberikan dampak kepada orang lain.
Pengalaman dalam pengelolaan KIP Kuliah juga membuat saya semakin memahami bahwa data mahasiswa bukan sekadar angka atau daftar nama.
Teknologi dan Administrasi
Saya cukup dekat dengan dunia komputer dan teknologi.
Perkembangan teknologi membuat banyak hal berubah. Cara bekerja berubah, cara menyimpan data berubah, cara berkomunikasi berubah, bahkan cara memberikan pelayanan juga ikut berubah.
Dulu banyak pekerjaan dilakukan secara manual. Sekarang banyak hal bisa dilakukan secara digital.
Tetapi menurut saya, teknologi bukan berarti semua pekerjaan otomatis menjadi mudah.
Tetap dibutuhkan orang yang memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan dengan benar.
Karena itu, saya melihat teknologi bukan hanya sebagai alat, tetapi sebagai bagian dari perubahan dalam pekerjaan dan pelayanan.
Ketertarikan tersebut kemudian semakin berkembang ketika saya mengangkat persoalan pelayanan akademik dan administrasi elektronik dalam penelitian saya.
Bagi saya, hal tersebut cukup menarik karena apa yang dipelajari dalam dunia akademik ternyata memiliki hubungan langsung dengan pekerjaan sehari-hari.
Saya tidak hanya belajar dari buku atau teori. Banyak hal justru saya pahami setelah berhadapan langsung dengan persoalan di lapangan.
KIP Kuliah dan Pelajaran dari Sebuah Data
Keterlibatan dalam pengelolaan KIP Kuliah juga memberikan pengalaman tersendiri.
Sebelumnya mungkin data hanya terlihat sebagai angka, nama, atau dokumen yang harus diperiksa. Tetapi ketika berhadapan langsung dengan mahasiswa, saya melihat persoalannya dengan cara yang berbeda.
Ada mahasiswa yang sangat berharap mendapatkan bantuan pendidikan.
Ada keluarga yang memiliki keterbatasan.
Ada mahasiswa yang ingin tetap kuliah tetapi juga harus memikirkan biaya pendidikan.
Karena itu, saya belajar bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan data harus dilakukan dengan hati-hati.
Satu kesalahan administrasi bisa berdampak pada orang lain.
Pengalaman tersebut mengajarkan saya untuk lebih teliti, lebih sabar, dan tidak menganggap pekerjaan administrasi sebagai sesuatu yang sepele.
Pengalaman dalam Pelayanan Informasi Publik
Dalam perjalanan saya, saya juga pernah dipercaya sebagai Sekretaris Komunitas Portal Lowongan Kerja Kota Ambon, berdasarkan Keputusan Wali Kota Ambon Nomor 875 Tahun 2022 tentang Pembentukan Komunitas Portal Lowongan Kerja Kota Ambon.
Pengalaman ini memberikan saya kesempatan untuk melihat lebih dekat pentingnya informasi bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang sedang mencari pekerjaan.
Sebuah informasi lowongan kerja mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Tetapi bagi seseorang yang sedang membutuhkan pekerjaan, informasi tersebut bisa menjadi sebuah kesempatan.
Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan.
Kesempatan untuk membantu keluarga.
Dan mungkin kesempatan untuk memulai kehidupan yang lebih baik.
Dari pengalaman tersebut saya semakin memahami bahwa teknologi dan informasi akan lebih berarti ketika digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Organisasi dan FPTI Kota Ambon
Selain pekerjaan dan pendidikan, organisasi juga menjadi bagian dari perjalanan saya "Sudirman Rumakeffing".
Saya pernah dipercaya menjadi Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Ambon periode 2022–2026.
Pengalaman memimpin organisasi memberikan pelajaran yang berbeda.
Ketika menjadi anggota, kita mungkin hanya melihat sebuah persoalan dari satu sisi. Tetapi ketika diberi tanggung jawab untuk memimpin, kita mulai memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.
Ada program yang harus dipikirkan.
Ada pengurus yang harus diajak bekerja sama.
Ada atlet yang harus diperhatikan.
Ada perbedaan pendapat.
Ada persoalan yang harus diselesaikan.
Dan ada keputusan yang terkadang harus diambil meskipun tidak semua orang mungkin menyukainya.
Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu menjadi orang yang paling benar.
Pemimpin harus mau mendengarkan.
Harus bisa menerima kritik.
Harus bersedia mengakui kekurangan.
Dan yang paling penting, harus siap bertanggung jawab.
Tentang Amanah dan Jabatan
Semakin lama saya berada dalam organisasi, semakin saya memahami bahwa jabatan pada akhirnya akan selesai.
Tidak ada posisi yang selamanya.
Tidak ada kepemimpinan yang berlangsung tanpa batas.
Ada waktunya seseorang memimpin dan ada waktunya memberikan kesempatan kepada orang lain.
Begitu juga dengan perjalanan saya di FPTI Kota Ambon. Masa kepengurusan 2022–2026 pada akhirnya sampai pada waktunya untuk berakhir.
Bagi saya, pergantian kepemimpinan bukan sesuatu yang harus dilihat sebagai akhir.
Organisasi harus tetap berjalan.
Yang penting adalah bagaimana amanah tersebut dijalankan ketika kita masih dipercaya.
Sebab ketika jabatan selesai, yang tersisa bukan jabatan itu sendiri.
Yang tersisa adalah apa yang pernah kita kerjakan, hubungan yang kita bangun, pengalaman yang kita dapatkan, dan bagaimana orang lain mengingat kita.
Tidak Semua Hal Berjalan Sesuai Rencana
Kalau saya harus jujur, perjalanan hidup tentu tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Ada hal yang berhasil.
Ada juga yang tidak.
Ada rencana yang akhirnya harus diubah.
Ada keputusan yang baru kita pahami setelah beberapa waktu.
Ada pengalaman yang awalnya terasa berat, tetapi ternyata memberikan pelajaran yang cukup penting.
Dulu mungkin saya melihat kegagalan sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Sekarang saya melihatnya sedikit berbeda.
Tidak semua kegagalan berarti akhir.
Kadang kita memang perlu berhenti sebentar, melihat kembali apa yang sudah dilakukan, kemudian mencoba mencari jalan yang lebih baik.
Saya juga belajar bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan hari itu juga.
Ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu.
Apa yang Saya Cari Sekarang?
Semakin bertambahnya pengalaman, cara saya melihat keberhasilan juga berubah.
Dulu mungkin keberhasilan lebih mudah dilihat dari gelar, pekerjaan, atau jabatan.
Sekarang saya mulai melihatnya dari sisi yang berbeda.
Saya lebih sering bertanya kepada diri sendiri:
Apakah ilmu yang saya punya bisa bermanfaat bagi orang lain?
Apakah pekerjaan yang saya lakukan memberikan sesuatu yang baik?
Apakah pengalaman yang saya miliki bisa membantu orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat saya sadar bahwa hidup bukan hanya tentang mengumpulkan pencapaian.
Ada saatnya kita juga harus berpikir tentang apa yang bisa kita berikan.
Terus Belajar di Tengah Perubahan
Saya memiliki ketertarikan pada teknologi, komputer, internet, dan perkembangan AI.
Bukan hanya karena ingin mengikuti perkembangan zaman, tetapi karena teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.
Apa yang sekarang dianggap baru, beberapa tahun lagi mungkin sudah menjadi sesuatu yang biasa.
Karena itu saya merasa tidak ada alasan untuk berhenti belajar.
Saya masih belajar.
Masih mencoba hal-hal baru.
Masih pernah melakukan kesalahan.
Dan masih mencari cara yang lebih baik untuk menyelesaikan sesuatu.
Menurut saya, tidak masalah kalau kita belum mengetahui semuanya.
Yang penting adalah masih memiliki kemauan untuk belajar.
Perjalanan Saya Belum Selesai
Kalau saya melihat kembali perjalanan yang sudah saya lewati, saya menyadari bahwa masih banyak hal yang belum saya capai.
Dan menurut saya, itu tidak masalah.
Saya tidak ingin menjadikan hidup sebagai perlombaan dengan orang lain.
Setiap orang memiliki waktunya sendiri.
Ada yang lebih dulu berhasil.
Ada yang membutuhkan waktu lebih lama.
Ada yang menemukan jalannya sejak awal.
Ada juga yang baru menemukan arah setelah melewati berbagai pengalaman.
Saya hanya ingin terus berjalan dengan kemampuan yang saya miliki.
Belajar ketika ada kesempatan.
Bekerja dengan sebaik mungkin.
Menjalankan amanah ketika dipercaya.
Menerima kritik ketika salah.
Dan tetap berusaha memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar saya.
Sebuah Catatan untuk Diri Saya
Kalau suatu hari nanti saya membaca kembali tulisan ini, mungkin banyak hal sudah berubah.
Mungkin pekerjaan saya berbeda.
Mungkin tanggung jawab saya bertambah.
Mungkin cara berpikir saya juga sudah tidak sama.
Tetapi saya berharap ada satu hal yang tetap saya miliki:
Keinginan untuk terus belajar dan menjadi lebih baik.
Saya tidak tahu persis seperti apa perjalanan saya beberapa tahun ke depan.
Saya juga tidak tahu apa saja yang akan saya temui.
Untuk sekarang, saya hanya ingin menjalani apa yang ada di depan saya dengan sebaik mungkin.
Kalau ada kesempatan untuk belajar, saya akan belajar.
Kalau diberi kepercayaan, saya akan berusaha menjalankannya.
Kalau melakukan kesalahan, saya ingin belajar memperbaikinya.
Dan kalau ada sesuatu yang bisa saya bagikan kepada orang lain, saya akan mencoba membagikannya.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kita berjalan.
Bagi saya, yang lebih penting adalah apa yang kita pelajari selama perjalanan dan apa yang bisa kita tinggalkan untuk orang lain.
Perjalanan saya Sudirman Rumakeffing masih panjang. Dan ceritanya belum selesai.